Print Email Download Reference This Send to Kindle Reddit This
submit to reddit

Portofolio

PORTOFOLIO

A. Teori Belajar yang Mendasari Pembelajaran Berbasis Portofolio

Model pembelajaran berbasis portofolio adalah teori belajar konstruktivisme, yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungannya (Kamii, dalam Poedjiadi, 1994:4).

Prinsip yang paling umum dan paling esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme, bahwa dalam merancang suatu pembelajaran adalah anak-anak (siswa) memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas).

Menurut Yager, (1992: 16 dalam Hidayat 1996) penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran. Sebagai contoh isu atau masalah yang muncul digunakan sebagai dasar pembahasan, diskusi, dan investigasi kegiatan di dalam atau di luar kelas.

Berdasarkan konstruktivisme sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978 dalam Poedjiadi 1996) pada dasarnya memandang bahwa dengan mengadakan diskusi atau mendengar pendapat orang lain seseorang membentuk pengetahuan atau mengubah pengetahuan yang sebelumnya telah dimilikinya.

Sebagai contoh dikemukakan bahwa apabila seorang siswa tidak mampu melakukan suatu pekerjaan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, lalu ia bertanya kepada orang lain, maka ia memperoleh pengetahuan baru. Dengan pengetahuan baru ini ia dapat menyelesaikan persoalan atau pekerjaan yang semual tidak dapat ia selesaikan. Menurut pandangan konstruktivisme sosial konsep dapat dengan mudah terbentuk pada diri siswa melalui aktivitas atau eksperimen. (Confrey, 1991 dalam Poedjiadi 1996).

Pembelajaran berbasis portofolio dapat juga dikatakan sebagai upaya medekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Materi pelajaran yang dibahas secara langsung dihadapkan kepada siswa atau siswa secara langsung mencari informasi tentang hal yang dibahas ke alam atau masyarakat sekitarnya.

Pada hakikatnya dengan Pembelajaran Berbasis Portofolio di samping memperoleh pengalaman fisik terhadap objek dalam pembelajaran, siswa juga memperoleh pengalaman atau terlibat secara mental. Pengalam fisik dalam arti melibatkan siswa atau mempertemukan siswa dengan objek pembelajaran. Pengalaman mental dalam arti memperhatikan informasi awal yang telah ada pada diri siswa, dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyusun (merekonstruksi) sendiri-sendiri informasi yang diperolehnya.

Pembelajaran Berbasis Portofolio memungkinkan siswa untuk

1) Berlatih memadukan antara konsep yang di peroleh dari penjelasan guru atau dari buku/bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

2) Siswa diberi kesempatan untuk mencari informasi di luar kelas baik informasi yang sifatnya benda/bacaan, penglihatan (objek langsung TV/radio/internet) maupun orang/pakar/tokoh.

3) Membuat alternatif untuk mengatasi topik/objek yang dibahas.

4) Membuat suatu keputusan (sesuai dengan kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah di pelajarinya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

5) Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas.

Pembelajaran Berbasis Portofolio seperti di atas, memberi keragaman sumber belajar, dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih sumber belajar yang sesuai sebagai landasan untuk menyusun (constructifism) fenomena alam/masyarakat/negara/dunia pada masing-masing siswa Salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, yakni berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan. Artinya upaya untuk memandirikan peserta didik untuk belajar, berkolaburasi, membantu teman, mengadakan pengamatan, dan penilaian diri untuk suatu refleksi akan mendorong mereka untuk membangun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian baru akan diperoleh melalui pengalaman langsung secara lebih efektif. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator belajar. (KBK, 2001 : 10).

B. Peran Portofolio dalam Pembelajaran

1. Portofolio sebagai Model Pembelajaran

Perlu dikemukakan bahwa portofolio sebagai model pembelajaran di adaptasi dari model “We the People… Project Citizen” yang dikembangkan oleh Center Civic Education (CCE) yang berkedudukan di Calabas, Amerika Serikat. Model pembelajaran ini telah diadaptasi oleh sekitar 50 negara termasuk Indonesia. Sifat dari model ini adalah generik-pedagogik, dan materinya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.

Di Indonesia, model pembelajaran ini dikembangkan pertama kali di Jawa Barat melalui perintisan di 6 SLTP negeri sejak tahun 2000. Dilaksanakan oleh Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Center for Indonesia Civic Education (CICED) dan United State Embassy Jakarta.

Tahun 2001 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mengembangkan model pembelajaran ini untuk kepala sekolah, pengawas dan guru-guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) se-Jawa Barat.

Tahun 2002, di adakan kegiatan yang sma baik di propinsi Jawa Barat yang dilaksankan oleh Dinas Pendidikan maupun yang dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang mengalami perkembangan ke tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU).

Tahun 2003, diselenggarakan Kompetisi aplikasi pembelajaraan ini untuk tingkat SLTP se-Jawa Barat, dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan propinsi Jawa Barat bekerja sama dengan CCE-Indonesia. Selanjutnya diadakan kompetisis serupa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional bekerja sama dengan CCE Indonesia.

2. Pengertian Portofolio

Portofolio berasal dari bahasa Inggris “portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Atau juga sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio disini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan (Dra. Arnie Fajar, M.Pd).

Biasanya portofolio merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih dari satu kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji.

Setiap portofolio memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang paling penting untuk ditampilkan. Tampilan portofolio berupa tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis, proses berfikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan.

Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar sehingga memiliki kemampuan organisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada di dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaannya/tugas-tugasnya.

Dapat disimpulkan beberapa pengertian potofolio :

1) Portofolio merupkan kumpulan bahan pilihan yang memberikan informasi bagi suatu penilaian kinerja secara objektif sesuai dengan tujuan pengajaran yang ada didalam kurikulum atau sesuai persyaratan kualitas yang ditentukan (Depdiknas, 2002)

2) Portofolio diartikan sebagai wujud benda fisikdan suatu proses sosial pedagogis. Dalam wujud fisik portofolio merupakan dokumentasi hasil pekerjaan siswa yang disimpan dalam suatu bundel. Sebagai suatu proses sosial pedagogis portofolio merupakan kumpulan pengalaman belajar yang terdapat dalam pikiran siswa berupa pengetahuan keterampilan, nilai, dan sikap (Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002)

3) Portofolio merupakan berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada kelulusan tujuan (Grounlund, 1999 dalam Nurhadi, 2005)

4) Portofolio merupakan kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih (Elni Rusoni, 2002).

Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah sebagai berikut.

1) Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat.

2) Memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas.

3) Mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji.

4) Membuat portofolio kelas.

5) Menyajikan portofolio/dengar pendapat (show case)

6) Melakukan refleksi pengalaman belajar.

Di dalam setiap langkah, siswa belajar mandiri dalam kelompok kecil dengan fasilitas dari guru dan menggunakan ragam sumber belajar di sekolah maupun di luar sekolah (masyarakat).

Sumber belajar atau informasi dapat diperoleh dari :

1) Manusia (pakar, tokoh agama, tokoh masyarakat dll)

2) Kantor penerbitan surat kabar, bahan tertulis.

3) Bahan terekam.

4) Bahan tersiar (TV, radio)

5) Alam sekitar

6) Situs sejarah, artifak dll.

Di sinilah Berbagai keterampilan dikembangkan seperti membaca, mendengar pendapat orang lain, bertanya, mencatat, menjelaskan, memilih, menimbang, mengakji, merancang, menyepakati, merumuskan, memilih pimpinan, membagi tugas, berargumentasi dan lain-lain.

C. Portofolio sebagai model pembelajaran terbagi dua bagian yakni :

1. Portofolio Tayangan (tampilan)

Portofolio tayangan pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) berjajar dan dapat berdiri sendiri tanpa penyangga. Namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain, seperti segi tiga sama sisi, lingkaran, oval, dan sebagainya sesuai daya kretifitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif.

Portofolio tayangan berukur kuran lebih 100 cm untuk yang berbentuk bujur sangkar, dan bentuk lainnya menyesuaikan: terbuat dari kardus/papan/gabus/sterofom atau bahan lainnya.

Berikut ini dicontohkan bentuk-bentuk portofolio tayangan :

Gambar 1 : Portofolio Tayangan Bentuk Bujur Sangkar

Gambar 2 : Portofolio Tayangan Bentuk Segi Tiga Sama Sisi

Gambar 3 : Portofolio Tayangan Bentuk Lingkaran

Gambar 4 : Portofolio Tayangan Bentuk Oval

1 Portofolio Dokumentasi

Portofolio dokumentasi berisi kumpulan bahan-bahan terpilih yang dapat diperoleh siswa dari literatur/buku, keliping dari koran/majalah, hasil wawancara dengan berbagai sumber, Radio/TV, foto, gambar, grafik, petikan dari sejumlah publikasi pemerintah swasta, kebijakan dari pemerintah, observasi lapangan dan lain-lain.

Manfaat dari portofolio dokumentasi selain sebagai bukti telah melaksanakan penelitian, juga dimaksudkan untuk mendukung dan melengkapi portofolio tayangan, karena tidak semua bahan dapat dituangkan pada portofolio tayangan.

Portofolio tayangan dan dokumentasi ini, selanjutnya disajikan dalam simulasi/dengar pendapat (public hearing) dalam acara “show case” (gelar kemampuan atau gelar khusus).

D. Langkah-langkah portofolio sebagai model pembelajaran

LANGKAH I :

Mengidentifikasi Masalah yang ada di Masyarakat

Pada tahap ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan bersama siswa yaitu : mendiskusikan tujuan, mencari masalah, apa saja yang siswa ketahui tentang masalah-masalah di masyarakat dan memberi tugas pekerjaan rumah tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat yang mereka anggap sangat berarti/penting sesuai dengan kemampuan siswa.

a) Masalah umum di masyarakat

b) Masalah-masalah di sekolah

c) Masalah-masalah yang menyangkut standar masyarakat

d) Masalah-masalah lingkungan

e) Masalah-masalah yang berkaitan dengan usia anak-anak muda dan lain-lain.

Dalam mengerjakan pekerjaan rumah tersebut siswa diharapkan untuk mencari informasdi tentang masalah yang akan dikaji dengan cara :

a) Mewawancarai orang tua/keluarga, teman, tetangga, dan orang lain yang dianggap menguasai masalah yang akan dikaji.

b) Melalui sumber-sumber cetak seperti majalah, koran dan tabloid

c) Melalui elektronika seperti radio, TV dan internet.

Semua informasi yang diperoleh harus dicatat untuk didiskusikan di kelas. Informasi yang dicatat merupakan deskripsi/gambaran atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Isu atau masalah apakah yang dianggap penting saat ini dan segera mendapatkan penanganan dari individu/masyarakat/pemerintah?

2. Mengapa masalah tersebut merupakan masalah yang dianggap penting oleh kalian/masyarakat?

3. Kebijakan apakah yang saat ini dimiliki pemerintah/lembaga pemerintah atau swasta/masyarakat?

4. Apakah keuntungan dari kebijakan tersebut?

5. Apakah kerugian dari kebijakan tersebut?

6. Apakah kebijakan tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini?

7. Apakah kebijakan tersebut perlu diperbaiki dan bagaimana caranya?

8. Apakah kebijakan tersebut perlu diganti, mengapa dan bagaimana caranya?

9. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap kebijakan tersebut?

10. Siapakah (individu, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah/swasta) yang bertanggung jawab terhadap masalah tersebut?

11. Apakah yang mereka lakukan berkenaan dengan masalah tersebut?

12. Dari mana saya dapat memperoleh informasi lebih banyak mengenai masalah tersebut?

LANGKAH II :

Memilih Masalah untuk Kajian Kelas

Sebelum memilih masalah yang akan dipelajari atau dikaji, hendaknya para siswa (kelas) mengkaji terlebih dahulu pengetahuan yang telah mereka miliki tentang masalah-masalah di masyarakat, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a). Mengkaji informasi yang telah dikumpulkan, selanjutnya menuliskannya di papan tulis atau kertas gambar lebar yang dijepit tentang msalah yang akan mereka kaji (beberapa siswa menuliskan).

b). Mengadakan pemilihan secara demokratis tentang masalah yang akan mereka kaji dengan cara memilih salah satu masalah yang telah ditulis di papan tulis atau kertas gambar lebar yang di jepit. Pemilihan dapat dilakukan secara musyawarah atau pengambilan suara atau voting.

c). Melakukan penelitian lanjutan tentang masalah yang terpilih untuk dikaji dengan mengumpulkan informasi.

LANGKAH III :

Mengumpulkan Informasi tentang masalah yang akan di kaji oleh kelas

Guru membimbing siswa dalam mendiskusikan sumber-sumber informasi berkenaan dengan masalah yang dikaji, misalnya mencari sumber informasi melalui perpustakaan, kantor penerbitan surat kabar, pakar, profesional (hakim, dokter, pengacara). Panduan untuk mencari informasi dari media cetak (buku, majalah, koran, tabloid, internet dll). Memuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Nama siswa pencari informasi

2. Tanggal pelaksanaan pencarian informasi

3. Nama media buku, majalah, koran, tabloid, dan lain-lain

4. Waktu penerbiatan

5. Pokok masalah berita atau artikel

6. Hal-hal penting apa saja yang ditulis oleh sumber informasi berkenaan dengan masalah yang dikaji ?

7. Kebijakaan apakah yang ditulis menurut sumber informasi berkenaan dengan masalah yang dikaji ?

8. Apakah keuntungan dari kebijakan tersebut ?

9. Apakah kerugian dari kebijakan tersebut ?

10. Apakah kebijakan tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini ?

11. Apakah kebijakan tersebut perlu diperbaiki dan bagaimana caranya ?

12. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap kebijakan tersebut ?

13. Apakah kebijakan tersebut perlu diganti, mengapa dan baimana caranya ?

14. Siapakah (individu, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah/swasta) yang bertanggung jawab terhadap masalah tersebut ?

15. Apakah yang mereka lakukan berkenaan dengan masalah tersebut ?

16. Dari mana saya memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai masalah tersebut ?

LANGKAH IV :

Membuat Portofolio Kelas

Pada tahap ini siswa hendaknya telah menyelesaikan penelitian yang memadai untuk memulai membuat portofolio kelas.

Selanjutnya ikuti langkah sebagai berikut :

1. Kelas di bagi dalam 4 kelompok dan setiap kelompok akan bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio. Keempat kelompok tersebut adalah :

Kelompok 1 bertugas

Menjelaskan masalah yang di kaji

Kelompok 2 bertugas

Menjelaskan berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi maslah

Kelompok 3 bertugas

Mengusulkan kebijakan untuk mengatasi masalah

Kelompok 4 bertugas

Membuat rencana tindakan yang dilakukan untuk pemecahan masalah

2. Guru mengulas tugas-tugas rinciannya untuk portofolio.

3. Guru menjelaskan bahwa informasi yang dikumpulkan oleh tim-tim penelitian seringkali akan bermanfaat bagi lebih dari satu kelompok portofolio.

4. Guru menjelaskan spesifikasi portofolio yakni terdapat bagian-bagian penayangan bertugas mengkoordinir penayangan yang ditempatkan pada lembar panel/poster yang terbuat dari papan busa, kardus atau papan yang sejenis dengan ukuran kurang lebih satu meter persegi atau bentuk lainnya sesuai dengan daya kretifitas siswa.

2. Portofolio Sebagai Penilaian

Penilaian dalam bahasa Inggris sering disebut assessment yang berarti penaksiran atau menaksit. Menurut Sumarmo, Utari dan Hasan, Hamid (2003 :1) asesmen (penilaian hasil belajar) sebagai “proses sistemik untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik” sedangkan Rustaman Y. Nuryani (2003 :1) mengemukakan bahwa “asesmen berada pada pihak yang di-ases dan digunakan untuk mengungkapkan kemajuan perorangan.

Dengan demikian asesmen dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang dilakukan secara sistematis, untuk mengungkap kemajuan siswa secara individu untuk menentukan pencapaian hasil belajar dalam rangka pencapaian kurikulum.

Adapun maksud dari asesmen adalah :

Ø Melacak kemajuan siswa (keeping track)

Ø Mengecek ketercapaian kemampuan (checking up)

Ø Mendeteksi kesalahan (finding out)

Ø Menyimpulkan (summing up)

Portofolio berarti koleksi dokumen atau tugas-tugas yang diorganisasikan dan dipilih untuk mencapai tujuan dan sebagai bukti yang nyata dari seseorang yang memiliki pertumbuhan dalam bidang pengetahuan, disposisi, dan keterampilan (Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan SMU, 2001). Sedangkan Rustaman, Nuryani, (2003 : 3) mengartikan portofolio sebagai “kumpulan upaya, kemajuan atau prestasi peserta didik yang terencana (bertujuan) pada area tertentu. Portofolio juga dapat diartikan sebagai suatu koleksi yang dikhususkan dari pekerjaan peserta didik yang mengalami perkembangan yang memungkinkan peserta didik dan juga pendidik menentukan kemajuan yang sudah dicapai oleh peserta didik”.

Portofolio penilaian (assessement) di sini diartikan sebagai kumpulan fakta/bukti dan dokument yang berupa tugas-tugas yang terorganisir secara sistematis dari seseorang secara individu dalam proses pembelajaran.

Perbedaan penilaian berbasis portofolio dengan penilaian berbentuk tes

No

Portofolio

Tes

1.

Penilaian berdasarkan seluruh tugas dan hasil kerja yang berkaitan dengan kinerja yang dinilai

Penilaian berdasarkan sejumlah tugas yang terbatas

2.

Siswa turut menilai perkembangan yang berlangsung selama proses pembelajaran

Hanya guru yang menilai berdasarkan yang terbatas

3.

Penilaian diri oleh siswa menjadi tujuan

Penilaian diri oleh siswa bukan merupakan tujuan

4.

Menilai setiap siswa berdasarkan pencapaian masing-masing dengan mempertimbangkan perbedaan sosial

Menilai semua siswa dengan menggunakan satu kriteria

5.

Penilaian melibatkan guru, siswa dan orang tua

Proses penilaian tidak kolaboratif

6.

Penilaian mencakup kemajuan, usaha dan pencapaian

Penilaian hanya mempertimbangkan hasil akhir

7.

Penilaian, pengajaran, dan pembelajaran terkait erat

Pembelajaran, testing, dan pengajaran terpisah

Dalam portofolio penilaian, guru dalam kelas adalah pasangan dalam suatu tim, siswa bekerja dengan guru untuk menetapkan tujuan pembelajaran. Guru adalah seseorang yang memberikan bantuan, memimpin dan memberikan petunjuk, tetapi guru bukan sebagai pusat (guru sentris) melainkan siswalah yang menjadi pusat dalam proses belajar mengajar (siswa sentris).

Dari uraian tentang portofolio penilaian diatas, dapat disimpulkan bahwa portofolio penilaian memiliki karakteristik sebagai berikut :

1 Merupakan hasil karya siswa yang berisi kemajuan dan penyelesaian tugas-tugas secara terus-menerus (continu) dalam usaha pencapaian kompetensi pembelajaran.

2 Mengukur setiap prestasi siswa secara individual dan menyadari perbedaan di antara siswa.

3 Merupakan suatu pendekatan kerja sama.

4 Mempunyai tujuan untuk menilai diri sendiri.

5 Memperbaiki dan mengupayakan prestasi.

6 Adanya keterkaitan antara penilaian dengan pembelajaran.

Adapun tipe-tipe portofolio :

1. Pengembangan portofolio = dokumen perkembangan individu

2. Bedah kasus portofolio = mengajukan argumentasi-argumentasi terbaik

3. Kelengkapan portofolio = keseluruhan hasil dari awal sampai akhir

4. Di luar portofolio = kumpulan dari kompetensi

Peran guru dalam portofolio penilaian adalah sebagai pemandu/pemimpin yang mengatur dan membantu siswa dalam melaksanakan pekerjaannya.

Berikut adalah beberapa hal penting yang merupakan garis besar peran guru dan siswa dalam pelaksanaan pendekatan portofolio penialaian :

No

Peran Guru

Peran Siswa

1.

Mengajar dikelas secara professional

Memilih topik-topik tulisan

2.

Merencanakan, melibatkan, memberi masukan kepada siswa di dalam kelas

Memilih materi bacaan

3.

Memberi semangat siswa berkewajiban untuk membuat keputusan, menggambar, mempertimbangkan, diskusi, dan membaca.

Mengorganisir, mempertahankan dan menanggapi bacaan dan tulisan dalam portofolio

4.

Memberikan petunjuk dan harapan

Terlibat dan mempertahankan

5.

Memproses pekerjaan, usaha, kemajuan dan prestasi sebagai hasil belajar

Mengoleksi, menganalis, membandingkan dan memilih tulian serta contoh-contoh bacaan

6.

Membantu siswa memimpin/memandu portofolionya

Kerjasama dengan orang lain untuk mengetahui secara personal tentang kekuatan dan kelemahannya

7.

Mengoleksi dan menganalisis contoh-contoh pekerjaan

Merencanakan tujuan tertentu

8.

Mengembangkan gaya mengajar yang menumbuhkan rasa saling mempengaruhi antara siswa dengan siswa dengan masyarakat dengan lingkungannya

9.

Mengumpulkan informasi dari hubungan antara siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan masyarakat dan lingkungannya

10.

Menggunakan anlisa dan contoh-contoh laporan untuk pihak-pihak yang membutuhkan

Portofolio ini berupa kumpulan catatan pribadi/individu yang berisi refleksi pengalaman belajar seperti, kegiatan siswa di dalam dan di luar kelas, kegiatan siswa sehari-hari yang berkaitan dengan pelajaran, membaca, menulis (segala sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran yang telah dikemukakan di atas), uneg-uneg siswa yang berkaitan dengan pelajaran, tanggapan guru dan sebagainya.

Penggunaan portofolio sebagai pembelajaran dan sebagai penilaian metode memiliki keunggulan dan kelemahan :

Keunggulan antara lain :

1. Dapat menutupi kekurangan proses pembelajaran IPS selama ini, yakni dalam mengembangkan keterampilan atau kecakapan sebagai warga negara.

2. Mendorong adanya kolaborasi (komunikasi dan hubungan) antara siswa dan siswa dan guru.

3. Memungkinkan guru mengakses kemampuan siswa membuat, menyusun laporan, menulis dan menghasilkan berbagai tugas akademik.

4. Meningkatkan dan mengembangkan wawasan siswa mengenai isu atau masalah-masalaha kemasyarakatan atau lingkungannya, dapat memotivasi adanya rasa peduli atau peka terhadap lingkungan masyarakat dari yang paling dekat hingga kemasalah nasional dan bahkan internasional.

5. Mendidik siswa memiliki kemampuan merefleksi pengalaman belajarnya, sehingga siswa termotivasi untuk belajar lebih baik dari yang sudah mereka lakukan.

6. Pengalaman belajar yang tersimpan dalam memorinya akan lebih tahan lama karena telah melakukan serangkaian proses belajar dari mengetahui, memahami diri sendiri, melakukan aktifitas dan belajar bekerjasama dengan rekan-rekannya dalam kebersamaan hidup di masyarakat.

Adapun kelemahannya antara lain :

1. Menggunakan waktu yang relatif lebih lama.

2. Memerlukan ketekunan, kesabaran, dan keterampilan guru

3. Memerlukan biaya

4. Memerlukan adanya jaringan komunikasi yang erat antara siswa, guru, sekolah, masyarakat dan lembaga/instansi pemerintah maupun swasta

E. PRINSIP-PRINSIP PENILAIAN PORTOFOLIO

Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan system penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan dibawah ini:

1. SALING PERCAYA

Penilaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya. Siswa harus memiliki kepercayaan bahwa evaluasi yang dilakukan guru bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya, akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan hasil belajar.

2. KETERBUKAAN

Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya guru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberikan nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberikan penilaian. Untuk menciptakan keterbukaan, dalam setiap proses pembelajaran guru harus menciptakan iklim belajar yang menyenangkan, sehingga setiap siswa dapat menunjukkan kemampuannya tanpa ada perasaan takut atau malu.

3. KERAHASIAAN

Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan setiap siswa. Berbagai komentar yang diberikan guru terhadap proses pembelajaran dan hasil karya siswa, biar siswa yang bersangkutan yang tahu. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipermalukan di depan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan. Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa paling hebat diantara teman-teman lainnya.

4. MILIK BERSAMA

Guru dan peserta didik harus merasa bahwa evidence portofolio adalah milik bersama, oleh sebab itu semua pihak harus menhaganya secara baik. Guru dan siswa perlu sepakat di mana evidence itu disimpan. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.

5. KEPUASAN DAN KESESUAIAN

Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Ketercapaian itu selanjutnya dapat dilihat dari evidence yang diorganisasikan oleh guru dan siswa. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnya evidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.

6. BUDAYA PEMBELAJARAN

Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Bukanlah untuk kerja yang tergambarkan pada setiap evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran. Oleh sebab itu melalui penilaian portofolio, dalam proses pembelajaran guru tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal sejumlah fakta atau pengetahuan taraf rendah, akan tetapi harus membelajarkan siswa pada taraf yang lebih tinggi, misalnya mengembangkan pembelajaran berpikir melalui penelaahan kasus atau pengumpulan dan penafsiran data.

7. REFLEKSI

Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan tentang kompetensi yang telah dimilikinya.

8. BERORIENTASI PADA PROSES DAN HASIL

Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar, sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa. Dengan demikian penilaian portofolio tidak hanya sekadar menilai hasil akhir yang dimiliki siswa akan tetapi juga menilai proses pembelajaran yang dilakukan siswa.

F. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PENILAIAN PORTOFOLIO

Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa digunakan untuk menilai kemampuan penguasaan materi pelajaran atau perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan pada akhir selesainya pelaksanaan program pembelajaran misalnya pada akhir caturwulan atau semester. Tidak demikian halnya dengan penilaian portofolio. Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penilaian portofolio merupakan bagian itegral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.

Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki keunggulan, di antaranya :

1. Penilaian Portofolio Dapat Menilai Kemampuan Siswa Secara Menyeluruh.

Penilaian portofolio, melalui pengumpulan evidence dapat menilai kemampuan siswa secara utuh, yang tidak hanya menilai kemampuan belajar. Di samping itu penilaian portofolio menilai dua sisi yang sama pentingnya yaitu sisi proses dan hasil belajar.

2. Penilaian Portofolio Dapat Menjamin Akuntabilitas.

Akuntabilitas (pertanggungjawaban) sekolah terhadap siswa, orang tua dan masyarakat, melalui penilaian portofolio dapat lebih terjamin. Mengapa demikian?sebab kemampuan siswa dapat lebih teruji dengan melihat setiap perkembangan siswa.

3. Penilaian Portofolio Merupakan Penilaian yang Bersifat Individual.
kekhasan penilaian portofolio adalah memungkinkan guru untuk melihat peserta didik sebagai individu yang masing-masing memiliki perbedaan, baik perbedaan dalam segi kemampuan, minat ataupun bakat termasuk perbedaan cara belajar. Dengan perbedaan itu, guru dapat menyesuaikan diri dalam pengelolaan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki kelemahan, diantaranya :

1. Memerlukan Waktu dan Kerja Keras

Penilaian portofolio memerlukan waktu dan kerja keras bagi guru dibandingkan penilaian lain. Guru dituntut untuk dapat memperhatikan setiap siswa secara individual, memantau perkembangannya, mendorong agar mereka lebih banyak beraktivitas, mengumpulkan setiap pekerjaan siswa untuk diberi komentar, dan lain sebagainya. Semua itu memerlukan waktu dan tenaga ekstra. Oleh karena itu, guru yang kurang memiliki motivasi yang kuat dalam menjalankan profesinya, akan sulit melaksanakan penilaian model portofolio ini.

2. Penilaian Portofolio Memerlukan Perubahan Cara Pandang.

Penilaian portofolion dapat dikatakan sebagai suatu inovasi. Sebagaimana layaknya sebuah inovasi, maka penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang baik dari guru itu sendiri, dari masyarakat termasuk perubahan cara pandang orang tua. Mengubah cara pandang itu bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi memerlukan kerja keras. Orang tua dan masyarakat yang sudah terbiasa menganggap keberhasilan proses pendidikan diukur dari sejumlah mana siswa telah menguasai materi pelajaran melalui pendekatan kuantitatif, akan sulit menerima bahwa keberhasilan itu ditentukan secara kualitatif. Demikian juga halnya dengan guru. Guru yang sudah terbiasa melaksanakan prose pembelajaran dengan menyampaikan materi pelajaran untuk diingat dan dihafal siswa, akan sulit melaksanakan pembelajaran dengan gaya portofolio, di mana siswa didorong untuk lebih banyak beraktivitas, mencari dan menemukan sendiri hingga kompetensi tercapai sesuai dengan tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum; setiap perkembangan dan perubahan siswa dimonitor dan diberi catatan secara terus-menerus.

G. TAHAPAN PELAKSANAAN PENILAIAN PORTOFOLIO

Terdapat sejumlah tahapan yang harus dilakukan dalam melaksanakan penilaian portofolio.

1. MENENTUKAN TUJUAN PORTOFOLIO

Pembelajaran adalah suatu proses yang bertujuan. Apa yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itulah tahapan pertama dalam pelaksanaan penilaian portofolio adalah merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Dengan tujuan yang jelas dan terarah, akan memudahkan bagi guru untuk mengelola pembelajaran.

Beberapa hal yang sangat penting sehubungan dengan penetapan tujuan portofolio dijelaskan berikut ini.

a. dengan menggunakan portofolio, apakah tujuannya untuk memtau proses pembelajaran (process oriented) atau untuk mengevaluasi hasil akhir (product oriented) atau mungkin keduanya.

b. Apakah tujuan penggunaan portofolio itu sebagai proses pembelajaran atau sebagai alat penilaian?

c. Apakah portofolio itu digunakan untuk memantau perkembangan dan perubahan setiap siswa atau hanya bermaksud untuk mengoleksi dan mendokumentasikan hasil pekerjaan siswa.

d. Apakah portofolio digunakan untuk menunjukkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung kepada pihak tertentu, misalnya kepada orang tua, atau komite sekolah, dan lain sebagainya.

Penentuan tujuan portofolio akan sangat membantu dalam menentukan evidence siswa dan proses bagaimana evidence itu diperoleh sebagai bukti bahwa siswa telah mencapai suatu kompetensi sesuai dengan rumusan kurikulum.

2. PENENTUAN ISI PORTOFOLIO

Isi dan bahan portofolio merupakan tahapan berikutnya setelah menentukan tujuan. Isi dalam portofolio harus dapat menggambarkan perkembangan kemampuan siswa yang sesuai dengan standar kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Misalkan apabila tujuan penggunaan portofolio adalah kemampuan anak dalam membuat sebuah karangan, maka isi portofolio adalah perkembangan kemampuan anak dari mulai mengembangakan ide atau gagasan, menentukan tema, menyusun kalimat, menyusun paragraph, dan seterusnya hingga penyusunan karangan secara utuh. Untuk menghasilkan kompetensi tersebut, tentu saja proses pembelajaran yang dilakukan guru harus sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Siswa didorong untuk menhasilkan karya, bukan hanya berperan sebagai penerima informasi dari guru. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan isi portofolio di antaranya :

a. apakah portofolio itu berisikan seluruh evidence siswa sesuai dengan pengalaman belajar yang telah dilakukannya, atau hanya berisi sebagaian saja yang diangap penting?

b. Apakah isi portofolio itu relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai sesuai dengan kurikulum?

c. Apakah portofolio itu berisi evidence siswa yang dikerjakannya sendiri atau hasil kerja kelompok?

3. MENENTUKAN KRITERIA DAN FORMAT PENILAIAN

Kriteria penilaian disusun sebagai standar patokan untuk guru dalam menetukan keberhasilan proses dan hasil pembelajaran pada setiap aspek yang akan dinilai. Adapun aspek-aspek yang dinilai tersebut sangat tergantung pada jenis kompetensi yang diharapkan. Selanjutnya criteria itu disusun dalam sebuah format penilaian yang jelas.

Kriteria penilaian ditentukan dalam dua aspek pokok, yaitu kriteria untuk proses belajar dan kriteria untuk hasil belajar. Proses belajar misalnya ditentukan criteria penilaian dari aspek kesungguhan menyelesaikan tugas, motivasi belajar, ketepatan waktu penyelesaian, dan lain sebagainya; sedangkan criteria dilihat dari hasil belajar disesuaikan dengan isi yang menggambarkan kempetensi.

Apabila kompetensi yang diharapkan berupa produk atau hasil karya siswa, maka criteria dan format penilaian ditetapkan sesuai dengan aspek-aspek yang terkandung dalam kompetensi itu sendiri.

4. PENGAMATAN DAN PENENTUAN BAHAN PORTOFOLIO

Tidak semua bahan (evidence) dimasukkan sebagai bahan portofolio. Portofolio biasanya hanya memuat evidence yang dianggap dapat mewakili dan menggambarkan suatu perkembangan dan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu, sebelum ditentukan evidence mana yang perlu dianggap dapat dimasukkan ke dalam portofolio, terlebih dahulu perlu dilakukan pengamatan.

Pengamatan dan penentuan evidence sebaiknya dilakukan oleh guru dan siswa secara bersama-sama. Siswa perlu dimintai pertimbangan-pertimbangan serta alasan-alasannya evidence mana yang harus dimasukkan. Hal ini penting untuk menjamin objektivitas penilaian portofolio.

Terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih dan menentukan bahan portofolio.

a. evidence yang ditetapkan sebagai bahan portofolio adalah evidence yang dapat mewakili gambaran kemampuan siswa yang sesungguhnya. Artinya melalui evidence yang ditentukan, baik guru maupun orang tua dan pihak-pihak lainya bisa menilai kemampuan akhir siswa.

b. Evidence dipilih karena dapat menggambarkan perkembangan perubahan dan kemampuan siswa dari awal hingga akhir siswa. Petimbangan ini dapat dilakukan terutama untuk menilai perkembangan kemampuan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian tidak semua evidence dimasukkan kedalam portofolio.

c. Evidence dipilih karena keterkesanan siswa akan karya yang dihasilkan. Oleh karena itu, siswa perlu dimintai komentar serta alasan-alasan mengapa ia menentukan evidence itu yang dimasukkan.

d. Evidence dipilih karena pertimbangan kesesuaiannya dengan kompetensi yang harus dicapai sesuai dengan kurikulum.

e. Evidence dipilih karena dilihat dari segi kepraktisan dan segi artistik portofolio.

G. MENYUSUN DOKUMEN PORTOFOLIO

Manakala bahan-bahan portofolio telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah menyusun bahan itu dalam dokumen portofolio, misalnya dalam bentuk folder. Folder itu sendiri perlu dilengkapi dengan :

a. identitas siswa;

b. Mata pelajaran;

c. Daftar isi dokumen; dan

d. Isi dokumen berserta komentar-komentar baik dari guru maupun orang tua.

I. Penilaian Portofolio Proses Belajar Siswa

Aspek yang dinilai:

Motivasi belajar

Nama : Abdul Gafur

Tanggal : 28 Agustus 2004

Mp : Biologi

Indicator

Kriteria

1. Keantusiasan dalam belajar

1

2

3

4

5

2. Partisipasi dalma kegiantan belajar

3. Keseriusan dalam penyelesaian tugas


Komentar orang tua:

Komentar guru:

Dalam proses pembelajaran biologi abdul gafur menunjukan motivasi belajar yang tinggi.

Pertahankan motifasi belajar kamu gafur…!

II. Penilaian Portofolio Hasil Belajar Siswa

Kompetensi dasar:

mampu mengaplikasikan konsep kelangsungan hidup dan memahami adaptasi serta perkembangbiakan hewan dan tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan

Nama : Hartilasti

Print Email Download Reference This Send to Kindle Reddit This

Share This Essay

To share this essay on Reddit, Facebook, Twitter, or Google+ just click on the buttons below:

Request Removal

If you are the original writer of this essay and no longer wish to have the essay published on the UK Essays website then please click on the link below to request removal:

Request the removal of this essay.


More from UK Essays